Showing posts with label Consultan. Show all posts
Showing posts with label Consultan. Show all posts
Buah atau Daun Kopi

Buah atau Daun Kopi

Buah atau Daun Kopi
oleh All Amin
Cerita tentang kopi memang tak ada habisnya, selalu menarik untuk dibahas, apalagi sambil menikmati secangkir kopi nikmat.
Suatu sore di sebuah kedai kopi, saya diskusi tetang kopi dengan seorang kawan. Kawan ini pengetahuannya tentang kopi sudah khatam. Dia bisa ceritakan dengan gamblang mulai dari varietas apa yang cocok ditanam diketinggian berapa, bahkan sampai pengaruh merek air mineral pada citarasa kopi. Terkadang cukup membuat orang melongo, apalagi ditambah dengan gaya bicaranya yang berapi-api. Pokoknya kalau sudah ngobrol dengan kawan yang satu ini, saya selalu menerapkan hukum Pareto 80:20. Dua puluh persen diskusi pakai mulut, sisanya hanya menggunakan telinga.
Rupanya cerita tentang kegiatan yang sedang saya lakukan, yaitu 'Gerakan Ayo Minum Teh dari Daun Kopi' sampai juga ke telinga kawan ini. Seperti yang saya perkirakan, mulailah saya menerima wejangan. "Apa yang brother kerjakan itu, sungguhlah berat. Minum daun kopi itu tidak populer brother, siapa yang akan mau minum daun kopi? Kan sudah ada pembagiannya, kalau kopi yang diambil buahnya, yang diminum daunnya itu namanya teh..." katanya membuka 'seminar' empat mata.
Sebagai seorang yang senang sekali kalau dipanggil pakar kopi, beragam argumentasi logis meluncur gamblang dari sohib saya ini "Kalau buah kopi itukan sudah jelas brother, minuman populer, rasanya banyak yang suka, manfaatnya ada dan pasarnya juga sangat besar. Buat apa brother buang-buang waktu melakukan sesuatu yang tidak jelas begitu". "Sorry ya, ini saran saya saja lho" katanya sesekali menghibur.
Jatah ngomong yang hanya sedikit, saya manfaatkan untuk bertanya. "Bagaimana sejarah awalnya kopi ini jadi minuman kawan?"
"Dari Ethiopia brother, dulu ada penggembala kambing namanya Kaldi..." si sohib lansung menimpali. "Suatu hari si Kaldi ini heran memperhatikan kambing gembalaanya selalu kelihatan agresif setelah memakan suatu jenis tanaman. Bahkan ada seekor kambing yang awalnya kelihatan sakit, setelah memakan tanaman itu kelihatan segar kembali. Lalu tanaman itu dibawa pulang oleh Kaldi, dan tanaman itulah sekarang yang kita kenal dengan kopi" ceritanya mantap.
Saya menyahut, "Besok saya mau coba kontak kawan di Afrika, mau tanya di Ethiopia itu kambing makannya buah atau daun kopi. Karena dikampung saya kambing itu biasanya makan daun, yang makan buah kopi itu musang namanya".
Karakter Cita Rasa Kopi

Karakter Cita Rasa Kopi


Terdapat enam atribut terpenting dalam karakter cita rasa kopi, yaitu 1) aroma; 2) acidity; 3) body; 4) flavors; 5) aftertaste; dan 6) sweetness. Keenam atribut cita rasa ini akan memengaruhi sensasi rasa dari kopi yang kita sesap. Karakter cita rasa kopi ini bukanlah sesuatu yang sulit kita kenali jika kita sudah terbiasa meminum kopi. Ketika kita menikmati secangkir kopi biasanya yang pertama kali kita cari adalah rasa, bukan tekstur atau hal lainnya. Jika kita selalu terkesan dengan karakter cita rasa kopi begitu meminumnya, ada baiknya kita mengenali karakter-karakter tersebut.

Karakter Cita Rasa Kopi: Aroma

Aroma kopi akan kita bisa nikmati sesaat setelah kopi tersebut diseduh dengan air. Aroma merupakan sensasi rasa yang berbentuk gas yang tentunya dapat menguap dan hilang. Itu sebabnya mengapa kadang kita tidak dapat menangkap aroma kopi secara maksimal jika kopi tersebut sudah menurun suhunya. Tetapi, dapat dipastikan bahwa aroma kopi yang tetap menonjol meski suhu kopi telah dingin adalah aroma yang baik dan kita cari. Aroma kopi dipengaruhi dari beberapa hal, seperti pertumbuhan kopi tersebut di kebun, proses pascapanen, dan aroma yang terbentuk pada saat proses penyangraian. Tidak semua aroma kopi itu baik dan bisa dinikmati. Misalnya, beberapa aroma taint yang terjadi karena kesalahan pada proses pascapanen hingga pada saat roasting.

Karakter Cita Rasa Kopi: Acidity

Acidity, yang umumnya dikenal sebagai keasamankopi, adalah rasa cerah dan menyegarkan yang menambahkan rasa hidup dari secangkir kopi. Keasaman kopi yang jelas paling banyak ditemukan di kopi-kopi yang berasal dari Ethiopia, Kenya, dan juga di setiap kopi dengan proses basah. Keasaman yang dirasakan dalam kopi tidak selalu berkorelasi dengan pH kopi, tetapi diyakini merupakan hasil dari tumbuhan itu sendiri. Keasaman kopi arabika akan lebih jelas dibanding kopi robusta. Tetapi acidity adalah sebuah sensasi rasa pada kopi yang dipengaruhi banyak hal. Selain karena karakter bawaan dari tumbuhan tersebut—biasa disebut organic acid—sensasi keasaman juga dapat terbentuk dari proses pascapanen. Misalnya, pada proses basah kopi akan lebih kuat karakter acidity-nya lantaran proses fermentasinya. Acidity juga bisa berkurang pada saat kopi disangrai terlalu lama. Tanpaacidity, kopi arabika akan terasa pincang. Value dari kopi arabika adalah acidity. Kopi-kopi di Indonesia adalah kopi yang rata-rata memiliki acidity lebih rendah jika dibanding dengan kopi dari Afrika atau Amerika Tengah. Itu bukan berarti kopi Indonesia memiliki kualitas lebih rendah, melainkan ia adalah ciri khas kopi Indonesia yang memiliki body lebih baik dibandingkan kopi dari negara lain. Acidity dapat kita rasakan seperti menikmati secangkir jus buah jeruk, apel, stroberi, lemon, dan buah lainnya yang memiliki keasaman menyegarkan.

Karakter Cita Rasa Kopi: Body

Rasa penuh di rongga mulut saat kita meminum kopi adalah sensasi dari bodyBody bisa diilustrasikan dengan cara membandingkan susu segar penuh lemak dengan susu segar rendah lemak. Susu segar penuh lemak akan lebih berat di rongga mulut dibandingkan susu segar rendah lemak. Namun, jika ingin dijabarkan lebih jauh, body bisa dirasakan seperti agak berminyak di mulut, agak kering di mulut, dan/atau terasa seperti cream yang sangat penuh di mulut. Selain susu segar, untuk ilustrasi mengenai body, kita bisa mencoba kopi Sumatra yang terkenal dengan body yang tinggi dibanding dengan daerah penghasil kopi lainnya. Body dapat tercipta karena proses pengelupasan buah, atau juga karena profil sangraian yang lebih gelap.

Karakter Cita Rasa Kopi: Flavors

Rasa kopi itu bervariasi, mulai hanya terasa satu karakter yang menonjol hingga rasa yang kompleks. Semua itu terjadi karena genetik pohon kopi, proses dikebun, proses pascapanen, hingga proses sangrai. Kopi yang memiliki flavors kompleks bisa membuat peminumnya sangat menikmatinya karena kopi terasa lebih meriah. Kopi-kopi dari Afrika atau Amerika Tengah memiliki kompleksitas rasa lebih banyak dibandingkan kopi-kopi dari Brazil. Di Indonesia, kopi-kopi dari Toraja akan lebih memiliki rasa kompleks dibandingkan kopi-kopi dari Jawa. Kopi yang memiliki rasa tidak kompleks biasanya digunakan sebagai kopi campuran dikarenakan memiliki satu dominan rasa yang mungkin tidak dimiliki kopi-kopi lainnya. Ilustrasi dari rasa yang kompleks bisa dengan cara merasakan fruit punch dibanding dengan orange juiceFruit punch adalah minuman campuran dari buah yang memiliki kekayaan rasa yang bervariasi, sedangkan orange juice hanya memiliki dominan rasa orangeyang kuat, tetapi orange juice dapat menambahkan rasa yang kompleks pada fruit punch.

Karakter Cita Rasa Kopi: Aftertaste

Jika ada pertanyaan atribut cita rasa mana yang bisa bertahan paling lama, jawabannya adalah aftertaste. Kita bisa merasakan atribut rasa lainnya hanya sekejap, tetapi aftertastedapat dirasakan lebih lama atau biasa disebut long aftertaste. Kopi-kopi yang memiliki long aftertaste yang baik akan memiliki kenangan tersendiri pada peminumnya. Aftertaste terjadi dikarenakan rasa yang kompleks yang menetap lebih lama pada rongga mulut kita. Sekadar ilustrasi, sebuah permen rasa mint akan memiliki aftertaste lebih lama bila dibanding dengan permen rasa lemon.

Karakter Cita Rasa Kopi: Sweetness

Semua kopi arabika terlahir dengan kadar manis yang lebih banyak dibandingkan kopi robusta. Jadi, seharusnya kopi arabika akan terasa manis jika disangrai dengan baik. Apalagi jika menggunakan kopi arabika pilihan dengan cacat sekunder sedikit dan tanpa cacat primer. Rasa kopi yang manis akan membuat peminumnya merasa lebih nyaman. Manusia sangat senang dengan rasa manis dibandingkan pahit. Kopi dengan sweetness yang tinggi menandakan kualitasnya sangat baik. Manis dimaksud bisa berarti manis seperti tebu, gula putih, atau gula merah. Memang manis di sini tidak bisa diartikan sama dengan kopi ditambah gula, tetapi dengan manisnya kopi, itu akan membuat Anda tidak ingin berhenti meneguknya. Ilustrasikan rasa manis di kopi dengan mengonsumsi buah semangka matang dengan buah melon. Keduanya memiliki rasa manis, tetapi secara umum semangka akan terasa lebih manis dibandingkan buah melon
sumber :bincangkopi.com/karakter-cita-rasa-kopi/
Sekilas mengenai Coffee Cupping

Sekilas mengenai Coffee Cupping

Pernahkah Anda mendengar istilah wine tasting? Mencicipi winemerupakan ritual untuk mengetahui jenis dan kualitas wine tertentu berdasarkan perbedaan seperti jenis buah anggur, pengolahan, lama fermentasi, dan sebagainya. Dalam dunia kopi, aktifitas seperti itu dikenal dengan nama cupping atau uji cita rasa, di mana seorang pencicip harus menghadapi beberapa cangkir seduhan kopi dan mencicipinya dengan cara-cara tertentu. Salah satu tujuan dari cupping itu untuk mengetahui perbedaan berbagai hasil seduhan kopi berdasarkan jenis, tingkat sangraian biji kopi, dan perbedaan profil rasa khas. Tujuan utama dari cupping adalah untuk mengetahui cacat produk atau profil rasa negatif dari kopi. Karena itu, aktifitas cupping harus dilakukan secara baku lantaran biasanya dilakukan di dalam industri kopi.
Tapi, jika Anda bukan pelaku industri kopi, Anda tetap bisa melakukan cupping lantaran secara umum cupping juga merupakan cara untuk mengetahui perbedaan profil rasa berbagai jenis kopi dari beberapa daerah penghasil. Berikut panduan umum dari cupping.

Perlengkapan dan Persiapan untuk Melakukan Cupping

Untuk menciptakan pengalaman pencicipan standard, perlengkapan cupping tidak boleh sembarangan. Asosiasi Kopi Spesialti Amerika (SCAA)—sebagai salah satu organisasi kopi yang paling banyak dirujuk—telah membuat protokol atau standardisasi yang harus dipenuhi dan disiapkan untuk praktik cupping yang ideal, antara lain adalah:
  • Gelas cupping. Jumlahnya mulai dari 5 hingga 10 gelas cupping berukuran sama. Gelas atau cangkir terbuat dari gelas atau keramik yang memiliki tutup, bahan dan material sama, serta satu sama lain identik secara volume. Volume cangkir sebaiknya antara 207 higga 266 ml, dengan ukuran diameter mulut cangkir sekitar 7,6 hingga 8,9 cm.
  • Sendok cupping untuk masing-masing sampel kopi, dengan bahan dan takaran sama. Semua sendok diletakkan di dalam satu cangkir.
  • Sampel kopi.
  • Air minum untuk menetralisir lidah dan bagian dalam mulut.
  • Agtron atau perkakas lain untuk membaca warna kopi tersangrai.
  • Alat perebus air. Air yang dituangkan ke cangkir berisi bubuk kopi harus sekitar 93°.
  • Alat penggiling kopi atau coffee grinder.
  • Timbangan biji kopi.
  • Alat tulis dan perlengkapannya seperti papan penjepit, kertas, dan pensil untuk mencatat hasilnya.
Selain semua perlengkapan ini, lingkungan kitaran juga harus disiapkan. Cupping harus dilakukan di tempat dengan pencahayaan yang bagus, tenang, dan tanpa aroma atau bau-bauan yang bisa memecah dan mengganggu konsentrasi. Telepon genggam pun sebaiknya dimatikan.

Metode Cupping

Sebelum Anda melakukan cupping, sampel kopi yang Anda gunakan harus memiliki profil sangrai tingkat light to medium, yang diukur dengan menggunakan skala Agtron yaitu poin 58 untuk kopi dalam keadaan biji dan poin 63 untuk kopi ketika keadaan bubuk. Jika menggunakan SCAA Roast Tile, poinnya antara 55 sd. 60.
Proses penyangraian sampel kopi dilakukan tidak kurang dari 8 menit dan tidak lebih dari 12 menit. Dan kopi yang disangrai tidak boleh sampai meninggalkan bekas hangus (scorchingatau tipping). Setelah disangrai, biji kopi harus segera didinginkan dan jangan disimpan di dekat sesuatu yang berbau tajam. Setelah suhunya mencapai suhu kamar, baru dimasukkan ke wadah tertutup dan disimpan dalam ruangan yang terhindar paparan langsung sinar matahari. Dan kopi tersangrai tersebut sekurang-kurangnya telah didiamkan dari masa sangrai selama 8 jam sebelum digunakan untuk keperluan cupping.
Jika Anda sudah mempersiapkan biji kopi tersangrai, barulah hal berikut dilakukan:
  • Giling biji kopi, lalu taruh di dalam gelas cupping. Lakukan pengujian pertama dengan mencium aroma (kering) kopi yang baru digiling tersebut dan tuliskan hasilnya. Untuk pengujian aroma kering ini, sampel kopi yang sudah tergiling harus segera dinilai, tidak boleh lebih dari 15 menit setelah kopi tergiling.
  • Setelah pengujian pertama, langsung tuangkan air panas dengan suhu sekitar 93°. Rasio idealnya adalah 8.25 gram bubuk kopi per 150 ml air. Tuangkan juga air panas yang digunakan untuk cupping ke gelas yang berisi sendok cupping agar suhunya sama ketika digunakan.
  • Tanpa mengaduk kopi yang telah dituangi air panas, cium lagi keharuman atau aroma basah (fragrance) dari sampel kopi dan catatkan apa yang Anda temukan.
  • Tunggu selama sekitar 3 sampai 5 menit, lalu ambil sendok cupping dari cangkir yang berisi air panas sebelumnya. Lalu aduk dengan pelan untuk membuyarkan bubuk kopi yang mengapung dipermukaan (crust) dengan sendok cupping sebanyak 3 kali. Kemudian, Anda mulai menghirup aroma basah yang merebak sambil menyisihkan buih yang muncul ke bagian belakang sendok. Setelah itu Anda mencatat hasilnya.
  • Setelah seduhan kopi sudah sampai pada suhu 71°, kurang lebih sekitar 8 sd. 10 menit dari waktu penyeduhan pertama kali, pengujian rasa (cairan kopi) sudah mulai dilakukan. Anda menyesap cairan kopi dengan cepat agar cairan tersebut bisa menutupi seluruh bagian lidah dan langit-langit mulut dan aromanya menyeruak ke hidung. Lakukan perlahan-lahan sampai Anda bisa merasakan rasa kopi yang ada. Pada tahap ini, Anda mencatat deskripsi soal rasa (flavor), tekstur cairan di dalam mulut (body), keasaman(acidity), dan jejak rasa tertinggal (aftertaste) dari kopi tersebut.
  • Setelah suhunya mendingin, sekitar 37°, Anda kembali menyesap cairan kopi seperti sebelumnya untuk menilai tingkat kemanisan (sweetness), konsistensi rasa kopi dari setiap gelas (uniformity), dan kebersihan (cleanliness) rasa kopi. Tak lupa Anda mencatat hasilnya di kertas penilaian.
  • Jika ada sesuatu yang khusus untuk disampaikan, misalnya rasa cacat, jangan lupa mencatatnya.

Lalu, bagaimana penilaian standardnya? Selain menggunakan deskripsi, Anda juga bisa menggunakan angka skor standard. Skalanya adalah angka 6 untuk Good7 untuk Very Good8 untuk Excellent, dan 9 ke atas untuk Outstanding. Angka yang tingkatannya di bawah 6 menandakan kopi yang kualitasnya jauh di bawah standard.
Hal yang perlu diperhatikan adalah meski terdapat standardisasi untuk melakukan cupping, pada dasarnya para penguji cita rasa kopi dari kalangan profesional juga memiliki ciri khas penilaian dan cara pencicipan mereka sendiri, walaupun tetap tidak menyimpang jauh dari metode standard.
sumber :bincangkopi.com/sekilas-mengenai-coffee-cupping/
Kopi Arabika Vs Kopi Robusta

Kopi Arabika Vs Kopi Robusta


Bagi para penggemar dan penikmat kopi mungkin tidak asing dengan dua jenis kopi ini yaitu kopi arabika dan kopi robusta. Dimanapun berada si penikmat kopi selalu berhadapan dengan dua jenis kopi ini. Kopi arabika dan kopi robusta bersaing ketat dalam melayani lidah penggemarnya. Olahan tangan seseorangpun kadang-kadang berpengaruh terhadap cita rasa dua jenis kopi ini. Walaupun demikian dua jenis kopi ini memiliki ciri khas masing-masing. Selain dilihat dari cita rasa, bisa juga dilihat dari wujud atau rupa. Serupa tapi tak sama itu yang kadang-kadang menjadi tolak ukur kita. Mungkin satu kopi ada yang lebih hitam warnanya dibandingkan dengan jenis kopi yang lain.
Bagi pemula pada barisan barista, dua jenis kopi inilah yang mereka kenal dengan baik. Kopi arabika dan kopi robusta ini merupakan andalan bagi penikmat kopi yang telah lama berkecimpung di dalamnya. Tidak ada trik khusus dalam mengenal kopi arabika maupun kopi robusta. Namun yang akan kita kenal adalah cara memilih kopi yang terbaik. Dua jenis kopi ini memiliki karakteristik dasar yang sangat jelas. Saat ini kita akan membahas tentang perbedaan kedua jenis kopi ini dan bagaimana cara mengolah kedua jenis kopi ini sehingga dihasilkan hasil olahan dengan kualitas terbaik. Tentunya bagi penikmat kopi arabika maupun kopi robusta bisa dengan puas menikmati kopi mereka.
Kopi arabika dan kopi robusta memiliki karakteristik yang sangat khas. Yang pertama adalah kopi arabika. Kopi ini memiliki aroma yang khas dan sedap. Kopi arabika ini juga memiliki rasa yang agak asam sehingga dijadikan kunci utama dalam menentukan pencampuran untuk kopi arabika ini. Kandungan kafein dari kopi arabika ini ternyata masih di bawah kandungan kafein kopi robusta. Jika dihitung secara prosentase kandungan kafein kopi arabika ini kurang dari 50% dibandingkan dengan kopi robusta. Selain itu tanaman kopi arabika ini memiliki ketahanan biji lebih besar dari berbagai macam iklim. Namun perawatan tanaman lebih sulit karena tanaman ini rapuh atau tidak mudah bertahan hidup.
Kopi robusta berbeda jauh dengan kopi arabika walaupun secara wujud hampir sama. Tanaman kopi ini cenderung relative lebih mudah dalam bertahan hidup dengan berbagai macam iklim sehingga pada saat masa panen biji kopi robusta lebih banyak yang bisa dipanen. Kopi robusta dari segi kandungan kafein lebih tinggi kopi robusta. Hal itu dapat dilihat dari segi rasa dan aromanya. Kopi robusta aromanya lebih lembut namun rasanya lebih pahit dari kopi arabika. Rasa pahit inilah yang mempengaruhi kandungan kafeinnya. Warna dari biji robusta juga berpengaruh terhadap kualitas biji kopi. Semakin gelap warna biji kopi, semakin baik pula biji kopi tersebut untuk diolah.
Kedua jenis kopi ini sangat berpengaruh terhadap selera penikmat kopi. Bagi orang awam, kopi arabika sudah cukup baik untuk disuguhkan. Olahan kopi arabika lebih mudah didapat karena citarasa dengan aroma yang sangat khas. Kopi arabika bagi sebagian penikmat kopi sangat menantang dengan kualitas dari kopi robusta. Bagi penggemar kopi maka kopi robusta menjadi pilihan yang utama. Dengan rasa yang sangat pahit dan cenderung sedikit asam, kopi ini memiliki karakteristik yang sangat kuat. Warna biji kopi robusta yang lebih gelap akan lebih mudah diolah menjadi minuman kopi yang berkualitas.


Indonesia Coffee Events 2015: Upaya Mengerek Citra-Martabat Kopi Indonesia

Indonesia Coffee Events 2015: Upaya Mengerek Citra-Martabat Kopi Indonesia

Indonesia Coffee Events 2015: Upaya Mengerek Citra-Martabat Kopi Indonesia


JAKARTA, Inspirasibangsa (22/9) — Menaikkan citra dan martabat kopi Indonesia di tingkat global. Ini salah satu misi penting dalam pagelaran Indonesia Coffee Events 2015.
Ajang kompetisi yang diprakarsai oleh Asosiasi Kopi Spesialti Indonesia (Spesialty Coffee Association of Indonesia (SCAI/AKSI) ini merupakan wahana untuk meramaikan dan mengukur perkembangan, keterampilan serta wawasan para praktisi dan pelaku industri kopi Indonesia dengan standar internasional.
“Nyaris seluruh penduduk dunia menggunakan kopi Indonesia. Bahkan kopi di Tanah Air kita sering mendapatkan apresiasi di tingkat internasional,”kata A. Syafrudin, Ketua Asosiasi Kopi Spesialti Indonesia , kepada inspirasibangsa.com Senin (21/9) di Jakarta.
Kalau orang Iain memberi apresiasi, maka selayaknya kita wajib mengapresiasi melalui penyelenggaraan kompetisi ini.
Hadir dalam acara temu dengan kalangan wartawan tersebut, selain A. Syafrudin, juga Faruk Fahrani, wakil ketua penyelenggara kompetisi, Philip Chen , perwakilan sponsor dari PT Sukanda Djaya, yang mensponsori mesin La Marzoko, serta grinder Mahklonic yang digunakan di WBC, Everpure, Caffeto, Susu Diamond Brookfarm.
Kompetisi praktisi dan pelaku industri kopi Indonesi ini akan digelar pada 25 – 28 September 2015. Lokasinya di Living World Alam Sutera, Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan. Para peserta kompetisi ini terdiri dari para barista dari seluruh kota di Indonesia, yang mewakili perusahaan, café, restorant, coffee shop atau perorangan.
Kompetisi terbagi dalam empat (4) kategori, yaitu; Indonesia Barista Championship (IBC), Indonesia Latte Art Championship (ILAC), Indonesia Cup Taster Championship (ICTC), dan Indonesia Brewer Cup (IBRC).
Sedangkan dewan juri dalam ajang kompetisi ini berasal dari Jakarta dan head judge dari negeri yang telah bersertifikat World Barista Championship. Head Judge di Bali, yaitu Danny Pang dari Singapore. Head Judge Jakarta, yaitu Mira Yudhawati dan Agus Tassi, serta aka nada juga Head Judge Sutinee Amornpatanakul/Fai dari Thailand. 
sumber : http://inspirasibangsa.com/indonesia-coffee-events-2015-upaya-mengerek-citra-martabat-kopi-indonesia/
Dasar-dasar Penyeduhan Kopi

Dasar-dasar Penyeduhan Kopi

Dasar-dasar Penyeduhan Kopi 1: Pengetahuan tentang Alat Seduh

[dropcap]M[/dropcap]etode seduh kopi bisa kita kategorikan ke dalam 4 garis besar: 1) boiling atau rebus, seperti turkish coffee pot; 2) immersing/steeping atau perendaman dalam jangka waktu tertentu, seperti french press, tubruk; 3) pourover/drip atau kopi saring menggunakan alat khusus, seperti Hario V60, Kalita Wave, Chemex, vietnamese drip, cold drip; dan 4) pressuring atau mengekstrak kopi dengan tekanan air khusus dari sumber-sumber yang bisa menghasilkan tekanan air, seperti mesin espresso, moka pot, percolator, siphon.
Dengan mengenal 4 besar metode seduh tersebut, kita bisa dengan mudah mengetahui cara kerja masing-masing alat seduh kopi. Jika kita kurang mengerti bagaimana seharusnya cara kerja alat tersebut, maka kita akan melakukan kekeliruan dalam penyeduhan kopi. Misalnya, pada saat kita tidak mengetahui cara kerja french press mungkin kita tidak akan menekannya, melainkan menyaringnya.

Dasar-dasar Penyeduhan Kopi 2: Kebersihan Alat Seduh

[dropcap]K[/dropcap]ita jangan terburu-buru membicarakan rasio kopi dan air, cara seduh, atau lainnya jika kita belum bisa dan mau membersihkan alat seduh kopi kita. Kebersihan alat-alat tersebut akan sangat berpengaruh terhadap hasil seduhan kopi kita. Jika kita menyeduh kopi dan tidak membersihkan alat seduh setelah digunakan, maka sisa-sisa seduhan akan menempel sehingga bisa menjadi kotoran. Jika itu terjadi, maka kotoran itu akan memengaruhi aroma dan rasa. Contohnya, mesh filter pada french press jika tidak dibersihkan, maka akan meninggalkan minyak dan ampas kecil yang menempel dan memengaruhi aroma dan rasa seduhan. Karena minyak dan ampas kecil akan menimbulkan bau dan rasa hambar di kopi.

Dasar-dasar Penyeduhan Kopi 3: Kesegaran Biji Kopi

[dropcap]M[/dropcap]asalah kesegaran biji kopi  adalah persoalan yang sangat krusial dalam penyeduhan kopi. Bahkan tidak hanya biji kopi yang sudah disangrai itu harus dalam keadaan segar ketika digunakan, green bean pun jika tidak segar akan menimbulkan rasa yang kurang nikmat. Tidak peduli meski green bean tersebut merupakan hasil kompetisi Cup of Excellence.
Green bean yang kurang segar, yaitu yang disimpan lebih dari satu tahun atau dengan penyimpanan yang kurang baik, akan menimbulkan rasa apek. Kualitas rasa dan aroma menjadi menurun pada saat dikonsumsi—saya biasa menyebutnya flat—walaupun baru disangrai 1 minggu yang lalu. Sementara itu, roasted bean yang sudah berusia 2 bulan dari tanggal penyangraian, ketidaksegarannya akan lebih terlihat pada saat diseduh. Dari segi visual, kopi yang tidak segar saat diseduh biasanya tidak atau kurang blooming jika dibandingkan freshly roasted bean.
Kita bisa menilai kesegaran kopi, baik itu green bean atau roasted bean, dengan cara mencium aromanya dan melihat warnanya. Aroma apek jamaknya mudah dikenali, jadi besar kemungkinan kita akan mengetahui apa kopi tersebut bau apek atau tidak. Lalu, jika kita lihat green bean yang kurang segar biasanya dari segi warna berubah menjadi pucat.
Baik roasted bean atau green bean sangat rentan dengan bau dari udara sekitar, cahaya, kelembaban, dan panas. Oleh karena itu, cafe atau coffeeshop yang tidak menjaga roasted bean atau green bean-nya dari faktor-faktor tersebut, maka dapat dipastikan mereka menyajikan kualitas kopi yang kurang maksimal. Kadang ada saja coffeeshop yang menyimpan green bean-nya dalam keadaan karung terbuka di dalam cafe yang smoking area.
LIHAT JUGA: Katup Kopi Satu Arah

Dasar-dasar Penyeduhan Kopi 4: Skala Giling Bubuk Kopi

[dropcap]A[/dropcap]da anjuran yang sangat bijaksana dari penjual coffee grinder kepada calon pembelinya:“Gilinglah kopi Anda sesaat sebelum menyeduhnya.” Buat saya ungkapan tersebut bukan diperuntukkan agar jualannya lebih laku, tetapi itu memang anjuran yang sangat baik untuk kita ikuti. Biji kopi yang telah digiling membuka rongga permukaan, atau biasa disebut surface area, menjadi partikel lebih kecil dari biji kopi sebelumnya. Hal tersebut membuat aroma kopi menjadi lebih cepat hilang.
Sejak dari menit pertama kopi itu digiling, senyawa kopi yang berbentuk gas mulai menguap. Itulah alasan mengapa ketika kita menyeduh kopi yang sudah jadi bubuk dalam waktu lama, aroma dan rasanya akan berkurang. Namun demikian, untuk penyeduhan maksimal bukan hanya menggiling kopi sesaat sebelum diseduh yang harus kita cermati, kita juga harus menyesuaikan hasil gilingan kopi kita dengan waktu seduh yang kita inginkan. Kenapa? Karena semakin halus kita menggiling kopi maka akan lebih cepat larut dengan air. Sementara itu, kopi seharusnya kita larutkan sekitar 1,5 – 2% saja dari kuantitas kopi yang kita siapkan, selebihnya adalah air yang akan memadukan rasa kopi yang kita inginkan.
Ketika kita melarutkan kopi kurang atau lebih dari waktu yang semestinya, hasilnya boleh jadi jauh dari yang kita inginkan. Misalnya, kopi terlalu cair atau pekat. Saya merekomendasikan waktu ekstraksi lebih cepat untuk skala giling halus dan waktu lebih lambat untuk skala giling kasar. Contohnya, french press membutuhkan hasil giling yang kasar karena waktu seduh french press rata-rata 4 menit, sedangkan mesin espresso membutuhkan hasil giling yang jauh lebih halus dari french press lantaran diseduh hanya sekitar 20-35 detik. Yang perlu diperhatikan, semua grinder walaupun dengan merk dan tipe yang sama bukan tidak mungkin menghasilkan grind size yang berbeda. Karena itu setting grinder penting sekali dilakukan setiap saat dan kita wajib mengtahui seberapa kasar atau halus bubuk kopi yang kita butuhkan untuk penyeduhan.
LIHAT JUGA: Penggiling Kopi

Dasar-dasar Penyeduhan Kopi 5: Waktu Seduh

[dropcap]W[/dropcap]aktu seduh atau biasa disebut contact time akan sangat berpengaruh dengan kepekatan kopi yang kita seduh: ada yang rasanya jadi cair atau lemah, ada pula yang rasanya jadi pekat dan kuat. Alat seduh kopi jelas akan memengaruhi bagaimana kita menyesuaikan waktu seduhnya. Karena beda metode akan membutuhkan hasil giling berbeda yang menentukan waktu seduh. Waktu seduh tercepat pada proses menyeduh kopi adalah espresso, sedangkan yang terlama untuk kopi panas adalah french press. Waktu seduh ini kita bisa teliti kembali untuk mengorelasikan kepada hasil seduhnya. Meski hanya berbeda beberapa detik, hasil seduh kopi akan berbeda, walaupun dibuat dengan alat yang sama. Karena alasan sepeti itu kita butuh konsistensi untuk menentukan waktu seduh dengan alat yang sama. Contoh, waktu seduh espresso 20 sd. 35 detik, waktu seduhpourover/drip 2:30 sd. 3:30 menit, waktu seduh full immerse 3 sd. 5 menit, dst.

Dasar-dasar Penyeduhan Kopi 6: Air dan Temperatur

[dropcap]A[/dropcap]ir adalah hal yang paling penting di dalam secangkir kopi, 98-99% pada secangkir kopi adalah air. Nah, jika kita tidak teliti dalam penggunaan air maka yang akan terjadi adalah rusaknya rasa kopi yang telah kita seduh. Air jelas tidak boleh berbau dan tidak boleh keruh warnanya. Di dalam protokol yang dikeluarkan badan-badan kopi dunia air diurai dengan berbagai parameter: hardness dan total dissolve solid, kadar pH, alkalinity, sodium, chlorine, dll. Parameter-parameter tersebut memang sulit dilihat dengan kasat mata atau dirasakan dengan lidah. Jika kita ingin mendapatkan hasil secara detail, maka kita harus melakukan uji lab atau menggunakan alat ukur yang dapat mengurai parameter tersebut.
Tetapi kita pastinya ingin tahu parameter tersebut secara manual atau sekadar pengetahuan awam saja. Jika masih sebatas pengetahuan awam kita bisa menggunakan indera penglihatan dan perasa, paling tidak cukup untuk mengetahui bau dan keruh air. Kita bisa melakukan percobaan, misalnya, mendiamkan air dalam satu gelas bening selama satu gelas. Jika air itu tidak kotor, maka tidak akan ada sedimen di bawah gelas, dan jika air itu tidak berbau biasanya setelah mendidih air masih tetap beraroma fresh. Atau kita juga bisa mencoba air tersebut digunakan untuk penyeduhan. Jika air yang kita gunakan itu bagus, maka air tersebut dapat mengeluarkan rasa dan aroma secara optimal. Sebaliknya, jika kurang baik akan menyebabkan rasa pahit atau rasa payau di cangkir kopi kita.
Mengenai suhu air, temperatur yang secara umum direkomendasikan berkisar antara 85°-96°C. Tetapi, perlu diingat bahwa kita juga harus melihat roast profile kopi tersebut. Jika semakin gelap roast profile-nya, maka akan semakin rentan terhadap panas air yang akan menyebabkan rasa pahit. Sebaliknya, jika temperatur air kurang panas, maka akan menyebabkan rasa kopi yang tidak optimal.

Dasar-dasar Penyeduhan Kopi 7: Rasio Kopi dan Air

[dropcap]R[/dropcap]asio antara air dan kopi merupakan hal terpenting untuk dibahas. Menurut saya, rasio yang baik adalah 15-18 ml air per 1 gram bubuk kopi. Jika kopi terlalu pekat, maka akan menyebabkan rasa yang sangat pahit dan menghilangkan sebagian rasa yang ada. Jika kopi terlalu encer, maka akan membuat rasa dan aroma kopi tidak maksimal dan cenderung sangat ringan.

Dasar-dasar Penyeduhan Kopi 8: Atribut Rasa

[dropcap]A[/dropcap]da baiknya sebelum menentukan parameter di atas, kita melakukan uji cita rasa atau biasa disebut cupping. Pada proses ini kita akan bisa mengetahui lebih jelas semua atribut rasa kopi yang ada di kopi tersebut. Sehingga pada saat kita menyeduh kopi, kita sudah memiliki parameter rasa yang hendak kita dapatkan. Tanpa mengetahui tujuan rasa yang kita ingin cari, mustahil kita akan mencapai rasa yang maksimal.

Dasar-dasar Penyeduhan Kopi 1: Pengetahuan tentang Alat Seduh

[dropcap]M[/dropcap]etode seduh kopi bisa kita kategorikan ke dalam 4 garis besar: 1) boiling atau rebus, seperti turkish coffee pot; 2) immersing/steeping atau perendaman dalam jangka waktu tertentu, seperti french press, tubruk; 3) pourover/drip atau kopi saring menggunakan alat khusus, seperti Hario V60, Kalita Wave, Chemex, vietnamese drip, cold drip; dan 4) pressuring atau mengekstrak kopi dengan tekanan air khusus dari sumber-sumber yang bisa menghasilkan tekanan air, seperti mesin espresso, moka pot, percolator, siphon.
Dengan mengenal 4 besar metode seduh tersebut, kita bisa dengan mudah mengetahui cara kerja masing-masing alat seduh kopi. Jika kita kurang mengerti bagaimana seharusnya cara kerja alat tersebut, maka kita akan melakukan kekeliruan dalam penyeduhan kopi. Misalnya, pada saat kita tidak mengetahui cara kerja french press mungkin kita tidak akan menekannya, melainkan menyaringnya.

Dasar-dasar Penyeduhan Kopi 2: Kebersihan Alat Seduh

[dropcap]K[/dropcap]ita jangan terburu-buru membicarakan rasio kopi dan air, cara seduh, atau lainnya jika kita belum bisa dan mau membersihkan alat seduh kopi kita. Kebersihan alat-alat tersebut akan sangat berpengaruh terhadap hasil seduhan kopi kita. Jika kita menyeduh kopi dan tidak membersihkan alat seduh setelah digunakan, maka sisa-sisa seduhan akan menempel sehingga bisa menjadi kotoran. Jika itu terjadi, maka kotoran itu akan memengaruhi aroma dan rasa. Contohnya, mesh filter pada french press jika tidak dibersihkan, maka akan meninggalkan minyak dan ampas kecil yang menempel dan memengaruhi aroma dan rasa seduhan. Karena minyak dan ampas kecil akan menimbulkan bau dan rasa hambar di kopi.

Dasar-dasar Penyeduhan Kopi 3: Kesegaran Biji Kopi

[dropcap]M[/dropcap]asalah kesegaran biji kopi  adalah persoalan yang sangat krusial dalam penyeduhan kopi. Bahkan tidak hanya biji kopi yang sudah disangrai itu harus dalam keadaan segar ketika digunakan, green bean pun jika tidak segar akan menimbulkan rasa yang kurang nikmat. Tidak peduli meski green bean tersebut merupakan hasil kompetisi Cup of Excellence.
Green bean yang kurang segar, yaitu yang disimpan lebih dari satu tahun atau dengan penyimpanan yang kurang baik, akan menimbulkan rasa apek. Kualitas rasa dan aroma menjadi menurun pada saat dikonsumsi—saya biasa menyebutnya flat—walaupun baru disangrai 1 minggu yang lalu. Sementara itu, roasted bean yang sudah berusia 2 bulan dari tanggal penyangraian, ketidaksegarannya akan lebih terlihat pada saat diseduh. Dari segi visual, kopi yang tidak segar saat diseduh biasanya tidak atau kurang blooming jika dibandingkan freshly roasted bean.
Kita bisa menilai kesegaran kopi, baik itu green bean atau roasted bean, dengan cara mencium aromanya dan melihat warnanya. Aroma apek jamaknya mudah dikenali, jadi besar kemungkinan kita akan mengetahui apa kopi tersebut bau apek atau tidak. Lalu, jika kita lihat green bean yang kurang segar biasanya dari segi warna berubah menjadi pucat.
Baik roasted bean atau green bean sangat rentan dengan bau dari udara sekitar, cahaya, kelembaban, dan panas. Oleh karena itu, cafe atau coffeeshop yang tidak menjaga roasted bean atau green bean-nya dari faktor-faktor tersebut, maka dapat dipastikan mereka menyajikan kualitas kopi yang kurang maksimal. Kadang ada saja coffeeshop yang menyimpan green bean-nya dalam keadaan karung terbuka di dalam cafe yang smoking area.
LIHAT JUGA: Katup Kopi Satu Arah

Dasar-dasar Penyeduhan Kopi 4: Skala Giling Bubuk Kopi

[dropcap]A[/dropcap]da anjuran yang sangat bijaksana dari penjual coffee grinder kepada calon pembelinya:“Gilinglah kopi Anda sesaat sebelum menyeduhnya.” Buat saya ungkapan tersebut bukan diperuntukkan agar jualannya lebih laku, tetapi itu memang anjuran yang sangat baik untuk kita ikuti. Biji kopi yang telah digiling membuka rongga permukaan, atau biasa disebut surface area, menjadi partikel lebih kecil dari biji kopi sebelumnya. Hal tersebut membuat aroma kopi menjadi lebih cepat hilang.
Sejak dari menit pertama kopi itu digiling, senyawa kopi yang berbentuk gas mulai menguap. Itulah alasan mengapa ketika kita menyeduh kopi yang sudah jadi bubuk dalam waktu lama, aroma dan rasanya akan berkurang. Namun demikian, untuk penyeduhan maksimal bukan hanya menggiling kopi sesaat sebelum diseduh yang harus kita cermati, kita juga harus menyesuaikan hasil gilingan kopi kita dengan waktu seduh yang kita inginkan. Kenapa? Karena semakin halus kita menggiling kopi maka akan lebih cepat larut dengan air. Sementara itu, kopi seharusnya kita larutkan sekitar 1,5 – 2% saja dari kuantitas kopi yang kita siapkan, selebihnya adalah air yang akan memadukan rasa kopi yang kita inginkan.
Ketika kita melarutkan kopi kurang atau lebih dari waktu yang semestinya, hasilnya boleh jadi jauh dari yang kita inginkan. Misalnya, kopi terlalu cair atau pekat. Saya merekomendasikan waktu ekstraksi lebih cepat untuk skala giling halus dan waktu lebih lambat untuk skala giling kasar. Contohnya, french press membutuhkan hasil giling yang kasar karena waktu seduh french press rata-rata 4 menit, sedangkan mesin espresso membutuhkan hasil giling yang jauh lebih halus dari french press lantaran diseduh hanya sekitar 20-35 detik. Yang perlu diperhatikan, semua grinder walaupun dengan merk dan tipe yang sama bukan tidak mungkin menghasilkan grind size yang berbeda. Karena itu setting grinder penting sekali dilakukan setiap saat dan kita wajib mengtahui seberapa kasar atau halus bubuk kopi yang kita butuhkan untuk penyeduhan.
LIHAT JUGA: Penggiling Kopi

Dasar-dasar Penyeduhan Kopi 5: Waktu Seduh

[dropcap]W[/dropcap]aktu seduh atau biasa disebut contact time akan sangat berpengaruh dengan kepekatan kopi yang kita seduh: ada yang rasanya jadi cair atau lemah, ada pula yang rasanya jadi pekat dan kuat. Alat seduh kopi jelas akan memengaruhi bagaimana kita menyesuaikan waktu seduhnya. Karena beda metode akan membutuhkan hasil giling berbeda yang menentukan waktu seduh. Waktu seduh tercepat pada proses menyeduh kopi adalah espresso, sedangkan yang terlama untuk kopi panas adalah french press. Waktu seduh ini kita bisa teliti kembali untuk mengorelasikan kepada hasil seduhnya. Meski hanya berbeda beberapa detik, hasil seduh kopi akan berbeda, walaupun dibuat dengan alat yang sama. Karena alasan sepeti itu kita butuh konsistensi untuk menentukan waktu seduh dengan alat yang sama. Contoh, waktu seduh espresso 20 sd. 35 detik, waktu seduhpourover/drip 2:30 sd. 3:30 menit, waktu seduh full immerse 3 sd. 5 menit, dst.

Dasar-dasar Penyeduhan Kopi 6: Air dan Temperatur

[dropcap]A[/dropcap]ir adalah hal yang paling penting di dalam secangkir kopi, 98-99% pada secangkir kopi adalah air. Nah, jika kita tidak teliti dalam penggunaan air maka yang akan terjadi adalah rusaknya rasa kopi yang telah kita seduh. Air jelas tidak boleh berbau dan tidak boleh keruh warnanya. Di dalam protokol yang dikeluarkan badan-badan kopi dunia air diurai dengan berbagai parameter: hardness dan total dissolve solid, kadar pH, alkalinity, sodium, chlorine, dll. Parameter-parameter tersebut memang sulit dilihat dengan kasat mata atau dirasakan dengan lidah. Jika kita ingin mendapatkan hasil secara detail, maka kita harus melakukan uji lab atau menggunakan alat ukur yang dapat mengurai parameter tersebut.
Tetapi kita pastinya ingin tahu parameter tersebut secara manual atau sekadar pengetahuan awam saja. Jika masih sebatas pengetahuan awam kita bisa menggunakan indera penglihatan dan perasa, paling tidak cukup untuk mengetahui bau dan keruh air. Kita bisa melakukan percobaan, misalnya, mendiamkan air dalam satu gelas bening selama satu gelas. Jika air itu tidak kotor, maka tidak akan ada sedimen di bawah gelas, dan jika air itu tidak berbau biasanya setelah mendidih air masih tetap beraroma fresh. Atau kita juga bisa mencoba air tersebut digunakan untuk penyeduhan. Jika air yang kita gunakan itu bagus, maka air tersebut dapat mengeluarkan rasa dan aroma secara optimal. Sebaliknya, jika kurang baik akan menyebabkan rasa pahit atau rasa payau di cangkir kopi kita.
Mengenai suhu air, temperatur yang secara umum direkomendasikan berkisar antara 85°-96°C. Tetapi, perlu diingat bahwa kita juga harus melihat roast profile kopi tersebut. Jika semakin gelap roast profile-nya, maka akan semakin rentan terhadap panas air yang akan menyebabkan rasa pahit. Sebaliknya, jika temperatur air kurang panas, maka akan menyebabkan rasa kopi yang tidak optimal.

Dasar-dasar Penyeduhan Kopi 7: Rasio Kopi dan Air


[dropcap]R[/dropcap]asio antara air dan kopi merupakan hal terpenting untuk dibahas. Menurut saya, rasio yang baik adalah 15-18 ml air per 1 gram bubuk kopi. Jika kopi terlalu pekat, maka akan menyebabkan rasa yang sangat pahit dan menghilangkan sebagian rasa yang ada. Jika kopi terlalu encer, maka akan membuat rasa dan aroma kopi tidak maksimal dan cenderung sangat ringan.

Dasar-dasar Penyeduhan Kopi 8: Atribut Rasa

[dropcap]A[/dropcap]da baiknya sebelum menentukan parameter di atas, kita melakukan uji cita rasa atau biasa disebut cupping. Pada proses ini kita akan bisa mengetahui lebih jelas semua atribut rasa kopi yang ada di kopi tersebut. Sehingga pada saat kita menyeduh kopi, kita sudah memiliki parameter rasa yang hendak kita dapatkan. Tanpa mengetahui tujuan rasa yang kita ingin cari, mustahil kita akan mencapai rasa yang maksimal.
sumber: http://bincangkopi.com/dasar-dasar-penyeduhan-kopi/
FESTIVAL ORIGINAL KOPI SUMATERA BARAT

FESTIVAL ORIGINAL KOPI SUMATERA BARAT

FESTIVAL ORIGINAL KOPI SUMATERA BARAT TAHUN 2015

Untuk menumbuh kembangkan agroindustri Perdesaan berbasis kelompok, dalam rangka peningkatan mutu, nilai tambah dan daya saing komoditi kopi, Dinas Perkebunan mengadakan kegiatan Festifal Original Kopi Sumatera Barat Tahun 2015 bertempat di Gedung Sapta Marga, Korem 032/Wirabraja – Padang tanggal 17 s/d 18 Maret 2015. Peserta Festifal Kopi berjumlah 150 orang yang terdiri dari : SKPD di Provinsi Sumatera Barat, Dinas-dinas lingkup perkebunan/yang menangani perkebunan di Kabupaten/Kota, Para Pecinta Kopi di Sumatera Barat, Asosiasi Kopi se Indonesia, Para Pelaku Usaha Kopi Semutera Barat, Petani Kopi se Sumatera Barat dan Perguruan Tinggi.


Dalam laporan panitia pelaksana yang langsung diketuai oleh Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Barat Ir. Fajarudin mengatakan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah;
I.            Untuk menumbuhkembangkan agroindustri perdesaan berbasis kelompok untuk komoditi kopi.
II.            Memberikan panduan bagi petani/produsen/pelaku usaha dan instansi Pembina dalam pengembangan kopi.
III.            Memfasilitasi dialog antara antara petani/produsen/pelaku usaha dengan instansi Pembina terkait pada pertemuan dan tatap muka untuk membicarakan bagaimana kopi yang berkwalitas.
IV.            Memberikan pembekalan dasar untuk proses olahan kopi yang mutunya baik sekaligus mencicipi citarasa kopi.
Kadisbun menambahkan para petani kopi di Sumatera Barat telah mempunyai pasar, seperti kopi arabika dari Air Dingin Kabupaten Solok mengisi pasar pada beberapa restaurant dan kafe di Jakarta dan Yogyakarta dan merencanakan akan merintis pasar ke Norwegia dan Cina. Kopi petani Agam mengisi pasar Yogyakarta khusus klinik kopi. Sedangkan kelompok tani Surian Kabupaten Solok telah memasarkan kopinya ke Australia, Italia, dan Thailand. Selain kopi arabika petani juga mengembangkan kopi kahwa daun, ternyata mempunyai pasar yang cukup besar juga baik dari dalam maupun luar negeri. Pada saat ini sedang dilakukan negosiasi dengan pembeli dari San Diego Amerika Serikat dan telah dikirimkan sample 2 (dua) kg kopi daun kahwa dari kota Payakumbuh.


Acara yang dihadiri langsung oleh Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, Komandan Korem 032 Wirabraja, Pimpinan Bank Indonesia berlangsung lancar. Dalam sambutan Bapak Gubernur sekaligus membuka acara secara resmi Festifal Original Kopi Sumatera Barat menyampaikan Apresiasi kepada Korem Wirabraja yang telah memfasilitasi kegiatan ini dan Dinas Perkebunan sebagai panitia. Harapan kita agar petani semakin sejahtera dengan adanya perhatian pemerintah dalam menjembatani dalam berkebun dan mencarikan pasar. Dari kemajuan petani kopi yang telah disampaikan Kadis Perkebunan Ir Fajarudin perlu kiranya kita meningkatkan kepedulian terhadap perkopian di Sumatera Barat. Untuk itu Pemerintahan Provinsi Sumatera Barat telah melakukan pembinaan mulai dari hulu (budidaya) sampai dengan hilir (pasca panen dan pemasaran). Gubernur bangga kepada petani yang telah berusaha keras untuk menanam dan menghasilkan produk perkebunan yang baik dan berkwalitas dan bernilai jual di pasar nasional maupun internasional. Setelah membuka acara secara resmi Gubernur bersama Komandan Korem langsung meninjau stand pengolahan minuman kopi Expreso Minang dan stand kelompok tani penghasil kopi serta mencicipi kopi.
Acara ini juga diisi dengan pemaparan narasumber dari pakar kopi serta kegiatan menguji citasara kopi kelompok tani yang diuji oleh tim ahli dari pecinta kopi Jakarta dan Yogyakarta
http://www.sumbarprov.go.id/details/news/4329